Sabtu, 09 Juli 2011

Hari-Hari Bingung: Biaya Pendidikan Kok Mahal Bangat

Bulan-bulan ini bagi orang tua yang mempunyai anak usia  masuk sekolah, pasti bingung memikirkan biaya anaknya masuk sekolah. Bila usia masuk sekolah hanya satu orang saja sudah pusing memikirkan mahalnya biaya masuk sekolah, apalagi bila yang masuk bareng beberapa orang anak sekaligus.
Mari kita coba hitung-hitung beayanya. Bila masuk TK saja sudah memerlukan uang jutaan rupiah untuk uang masuknya, belum lagi ditambah lagi bayaran bulanan yang berkisar ratusan ribu dan ditambah lagi dengan uang kegiatan study tour, pasti tiap bulan orang tua harus menabung ratusan ribu lagi untuk satu orang anak usia TK.
Bila usia anaknya masuk SD, tentu lebih berat lagi. Ada uang masuk (pangkal) yang juga jumlahnya jutaan rupiah, ada uang tahunan yang besarnya hampir satu juta rupiah, ada uang bulanan yang ratusan ribu rupiah, ditambah uang tetek-bengek lainnya.
Bila usia anaknya masuk setingkat SMP atau MTs, siapkan saja uang jutaan masuk. Untuk pesantren saja uang masuknya berkisar Rp. 10 juta; plus Rp 3 juta uang tahunan, plus uang asrama dan makan Rp 1 juta perbulan. Plus uang lainnya seperti matrikulasi bahasa Arab bila anaknya belum pandai bahasa Arab berkisar Rp. 750 ribu, dan uang lain-lain.
Masuk SMA atau MA, apalagi. Lebih mahal lagi. Apalagi masuk RSBI. Siapkan ssaja uang puluhan juta. Masuk perguruan tinggi pasti lebih mahal, bahkan mahal banget. Berbagai macam iming-iming dari pihak pengelola pendidikan saat ini gencar membidik calon anak didik dengan berbagai rayuan dan program macam-macam termasuk dual degree yang belum ada izinnya. (sama dengan caleg ada saat pemilu). Padahal bila sudah masuk, semua yang diiming-imingi tidak semuanya terfasilitasi dengan baik.
Mahal banget. Begitulah pendidikan di tanah air. Bila uang yang dikeluarkan oleh orang tua sebanding dengan output (hasil pendidikan yang didapat anak didik) masih bagus. Namun, masih banyak lembaga pendidikan yang menjadikan orang tua sebagai sapi perah, khususnya pada lembaga pendidikan bergengsi dengan dalih berbagai kegiatan ekstra dan sebagainya.
Begitulah nasib rakyat di negeri ini. Semuanya harus bayar, tidak ada yang gratis. Padahal hak pendidikan warga negara sama dengan hak mendapatkan nafas, artinya gratis sebagaimana yang dikemukakan oleh Dr. Taha Husein dari Mesir, yang ketika menjadi Menteri Pendidikan disana menggratiskan semua pendidikan warga negara Mesir dari SD s/d Perguruan Tinggi hingga saat ini. Padahal negara Mesir lebih miskin ketimbang Indonesia. Kalau SD s/d SMA bukan hanya biaya pendidikannya saja yang gratis, juga termasuk buku-buku teksbooknya. Hanya di Perguruan Tinggi biayanya gratis namun buku teksnya dibeli oleh mahasiswa.
Kapan Indonesia bisa demikian? Wallahu A’lam.
salam damai,,,

Tut Wuri Handayani yang Terlupakan

Kita sekarang sudah jarang sekali mendengar orang-orang menyebutkan istilah tersebut. Dulu, sewaktu masih SD saya sering mengucapkan, atau paling tidak mendengar orang mengucapkan istilah itu. Entah itu oleh guru, sesama siswa, atau oleh pejabat dari dinas pendidikan nasional. Sekarang ini, istilah Tut Wuri Handayani sudah mulai asing bagi orang-orang yang bergerak didunia pendidikan. Istilah Tut Wuri Handayani juga diikuti oleh 2 istilah lainnya yaitu Ing Madya Mangun Karsa, dan Ing Ngarsa Sung Tulada. Ketiga istilah itu memiliki arti dan makna yang sangat mendalam. Ing Ngarsa Sung Tulada artinya didepan memberi contoh, Ing Madya Mangun Karsa artinya ditengah menciptakan prakarsa dan ide, serta Tut Wuri Handayani atau dibelakang memberi dorongan.
Ketiga istilah tersebut pertama kali diucapkan oleh Ki Hajar Dewantara, tokoh dan pelopor pendidikan yang pertama kali mendirikan sekolah taman siswa. Tentu, Ki Hajar Dewwantara tidak hanya sekedar mengucapkan istilah tersebut. Sejatinya, ketiga istilah tersebut ditujukan kepada para guru. Namun, melihat dari artinya, tentu siapa saja yang berkecimpung di dunia pendidikan harus dapat memahami dan memaknai arti dan maksudnya. Ketiga istilah tersebut merupakan pondasi bagi pembangunan pendidikan. Sebagai pemeran utama pendidikan, guru harus mempedomani ketiga hal tersebut. Memang, dilihat dari bahasa, istilah tersebut berasal dari bahasa Jawa. Tapi, karena makna yang bersifat universal dapat berlaku dimana saja.
Seharusnya kita bangga dengan istilah tersebut, namun sangat disayangkan sekarang ini istilah tersebut sudah tak populer lagi. Jangankan para siswanya, guru-guru dan pihak dinas pendidikan nasional mungkin banyak tak tahu istilah tersebut. Mencermati istilah Tut Wuri Handayani atau dibelakang memberi dorongan, maka para guru hendaknya mampu menjadi motivator bagi kebangkitan semangat siswa untuk belajar lebih giat lagi. Banyak guru-guru kita yang sudah tak mampu lagi menjadi motivator. Mereka lebih mementingkan hal yang bersifat material semata dalam mengajar. Padahal, mengajar manusia, yang utama dilakukan adalah menumbuhkan semangat mereka untuk belajar. Guru-guru yang mampu memberikan dorongan kepada para siswanya akan menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi.
Ditengah harus menciptakan prakarsa dan ide, atau Ing Madya Mangun Karsa ditujukan agar guru mampu membuat inovasi, variasi, dan kreativ dalam mengajar. Guru dituntut untuk selalu memperbaharui diri dan pengetahuannya agar siswanya mendapatkan tambahan pengetahuan dengan baik. Guru harus bisa mencari alternative dalam memberikan materi pelajaran. Artinya, guru tidak hanya terpaku pada kurikulum dan materi pelajaran yang ada di buku pelajaran semata, tetapi mampu melakukan berbagai inovasi dan kreasi sehingga siswa mendapatkan berbagai alternative bahan pelajaran. Hal ini hanya dapat dilakukan bila ada keinginan dan niat kuat dari seorang guru untuk terus memperbaiki dirinya serta memperbaharui pengetahuan yang dimilikinya.
Guru merupakan panutan dan contoh bagi para siswanya. Apapun yang dilakukan oleh guru merupakan semacam aturan yang kemudian menjadi contoh bagi siswanya. Guru yang baik akan menghasilkan siswa yang baik pula. Demikian sebaliknya. Menjadi teladan memang bukan hal yang mudah, namun demikian bukan mustahil untuk dilakukan. Seorang guru memang seharusnya dan selayaknya menjadi contoh bagi siswanya. Etika, sopan santun, budi pekerti, dan sebagainya harus dimulai dari gurunya. Bukan malah sebaliknya, justru guru yang memulai mengajarkan siswanya untuk kurang ajar. Kebaikan guru tercermin dari kebaikan gurunya. Hal ini tercermin dari peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Agar murid tak kencing berlari maka guru jangan kencing berdiri. Artinya, setiap perangai guru akan tercermin pada siswanya, bahkan siswanya bisa melakukan lebih dari apa yang dilakukan oleh gurunya.
Tulisan Tut Wuri Handayani melekat pada lambing dari Departemen Pendidikan Nasional. Dengan tulisan tersebut Depdiknas ingin menjadi motivator bagi kemajuan dan perkambangan dunia pendidikan di Indonesia. Namun yang terlihat selama ini, Depdiknas hanya berperan sebagai regulator dibandingkan sebagai motivator. Depdiknas sangat sibuk dengan upaya-upaya merancang berbagai peraturan tentang dunia pendidikan, dan agak melupakan perannya sebagai motivator pendidikan. Itulah sebabnya, dunia pendidikan kita masih belum mampu menghasilkan kualitas pendidikan setara dengan Negara-negara yang sudah maju.
Sungguh sangat arif dan bijaksana Ki Hajar Dewantara mengucapkan ketiga istilah tersebut. Sekarang ini kita, terutama para guru dan mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan harus mengkampanyekan kembali ketiga istilah tersebut. Gunanya adalah agar kita semua disadarkan kembali tentang nilai-nilai pendidikan yang harus dimaknai oleh guru dan jajarannya. Tak sulit untuk melakukannya, yang penting ada niat dan kemauan untuk melakukannya, pasti semua akan dapat dilaksanakan.